MAKALAH KEPERAWATAN ANAK
“ASKEP
MENINGITIS PADA ANAK”
Makalah
ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan anak
AKADEMI KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
CIREBON
TAHUN AJARAN 2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt. Yang telah memberikan rahmad dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan segala keterbatasan.
Makalah ini dibuat sebagai tugas mata kuliah Keperawatan Anak, yang merupakan salah satu mata kuliah dalam Program Akper Muhammadiyah Cirebon. Dan juga dapat digunakan sebagai salah satu literatur dalam proses belajar Anak di kelas.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Akan tetapi, dalam makalah ini terdapat kekurangan untuk itu dengan sangat kami senantiasa menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, kami berharap para pembaca dapat memanfaatkan makalah ini, baik bagi kepentingan-kepentingan praktis di dalam kelas maupun untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
DAFTAR ISI
Kata
Pengatar...................................................................................................
Daftar Isi..........................................................................................................
BAB I
Pendahuluan.........................................................................................
1.1
Latar Belakang...........................................................................................
1.2
Tujuan Penulisan.........................................................................................
1.2.1 Tujuan Umum..........................................................................................
1.2.2 Tujuan Khusus.........................................................................................
1.3
Sistematika Penulisan.................................................................................
BAB II
Tinjauan Teori.....................................................................................
2.1 Definisi.......................................................................................................
2.2 Klasifikasi...................................................................................................
2.3 Etiologi.......................................................................................................
2.4 Patofisiologi................................................................................................
2.5 Manisfestasi Klinis.....................................................................................
2.6 Pemeriksaan Diagnostik.............................................................................
2.7 Komplikasi..................................................................................................
BAB III Asuhan Keperawatan Meningitis Pada Anak....................................
3.1 Pengkajian..................................................................................................
3. 2 Diagnosa Keperawatan..............................................................................
3.3 Intervensi....................................................................................................
3.4 Evaluasi......................................................................................................
BAB IV PENUTUP.........................................................................................
4.1 Kesimpulan.................................................................................................
4.2 Saran...........................................................................................................
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit infeksi di Indonesia masih
merupakan masalah kesehatan yang utama. Salah satu penyakit tersebut adalah
infeksi susunan saraf pusat. Penyebab infeksi susunan saraf pusat adalah virus,
bakteri atau mikroorganisme lain. Meningitis merupakan penyakit infeksi dengan
angka kematian berkisar antara 18-40% dan angka kecacatan 30-50%.
Bakteri penyebab meningitis ditemukan di seluruh dunia, dengan
angka kejadian penyakit yang bervariasi. Di Indonesia, dilaporkan bahwa
Haemophilus influenzae tipe B ditemukan pada 33% diantara kasus meningitis.
Pada penelitian lanjutan, didapatkan 38% penyebab meningitis pada anak kurang dari 5 tahun. Di Australia pada tahun 1995 meningitis yang disebabkan Neisseria meningitidis 2,1 kasus per 100.000 populasi, dengan puncaknya pada usia 0 – 4 tahun dan 15 – 19 tahun . Sedangkan kasus meningitis yang disebabkan Steptococcus pneumoniae angka kejadian pertahun 10 – 100 per 100.000 populasi pada anak kurang dari 2 tahun dan diperkirakan ada 3000 kasus per tahun untuk seluruh kelompok usia, dengan angka kematian pada anak sebesar 15%, retardasi mental 17%, kejang 14% dan gangguan pendengaran 28%.
Pada penelitian lanjutan, didapatkan 38% penyebab meningitis pada anak kurang dari 5 tahun. Di Australia pada tahun 1995 meningitis yang disebabkan Neisseria meningitidis 2,1 kasus per 100.000 populasi, dengan puncaknya pada usia 0 – 4 tahun dan 15 – 19 tahun . Sedangkan kasus meningitis yang disebabkan Steptococcus pneumoniae angka kejadian pertahun 10 – 100 per 100.000 populasi pada anak kurang dari 2 tahun dan diperkirakan ada 3000 kasus per tahun untuk seluruh kelompok usia, dengan angka kematian pada anak sebesar 15%, retardasi mental 17%, kejang 14% dan gangguan pendengaran 28%.
1.2. Tujuan
Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan memahami tenteng asuhan keperawatan
meningitis
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui dan Memahami tentang pengertian dari meningitis
2. Mengetahui dan Memahami tentang etiologi dari meningitis
3. Mengetahui dan Memahami tentang patofisiologi/pathway dari meningitis
4. Mengetahui dan Memahami tentang manifestasi klinis dari meningitis
5. Mengetahui dan Memahami tentang pemerikaan diagnosa dari meningitis
6. Mengetahui dan Memahami tentang penatalaksanaan medis dari meningitis
7. Mengetahui Memahami tentang pengkajian keperawatan meningitis
8. Mengetahui dan Memahami tentang diagnosa keperawatan yang muncul pada anak dengan meningitis
9. Mengetahui dan Memahami tentang perencanaan keperawatan meningitis
1. Mengetahui dan Memahami tentang pengertian dari meningitis
2. Mengetahui dan Memahami tentang etiologi dari meningitis
3. Mengetahui dan Memahami tentang patofisiologi/pathway dari meningitis
4. Mengetahui dan Memahami tentang manifestasi klinis dari meningitis
5. Mengetahui dan Memahami tentang pemerikaan diagnosa dari meningitis
6. Mengetahui dan Memahami tentang penatalaksanaan medis dari meningitis
7. Mengetahui Memahami tentang pengkajian keperawatan meningitis
8. Mengetahui dan Memahami tentang diagnosa keperawatan yang muncul pada anak dengan meningitis
9. Mengetahui dan Memahami tentang perencanaan keperawatan meningitis
10. Mengetahui dan Memahami tentang
evaluasi keperawatan meningitis
1.3 Sistematika Penulisan
Dalam
penyusunan makalah ini, penulis membagi maklah ini dalam 4 BAB yang terdiri dari:
BAB I Pendahuluan terdiri dari: Latar belakang, Tujuan
penulisan, Sistematika penulisan
BABII
Tinjaun Teori
terdiri dari: Definisi , Klasifikasi , Etiologi , Patofisiologi,
Manisfestasi klinis, Pemeriksaan diagnostik , Komplikasi,
BAB IV Asuhan Keperawatan Meningitis Pada
Anak : Pengkajian, Diagnosa keperawatan, Intervensi, Evaluasi
BAB III Penutup : Kesimpulan dan Saran
Daftar pustaka
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Meningitis
adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula
spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur(Smeltzer,
2001).
Meningitis merupakan inflamasi akut dalam meningen. Yaitu
lapisan jaringan yang mengelilingi otak dan korda spinal. Ketika organisme
menginvasi meningen, cairan serebrospinal menyebarkan agens infeksius ke otak
dan jaringan sekitar neonatus memiliki prognosis terburuk dan kesempatan
terbesar untuk mengalami sekuela neurologis.
2.2 Klasifikasi
Jenis – jenis meningitis yaitu:
1.
Meningitis
bakterial
melalui
invasi langsung atau invasi tidak langsung dan infeksi pada lokasi tubuhyang
lain (gigi, sinus , paru , tonsil)
2.
Meningitis
purulenta
Adalah radang bernanah
arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula spinalis. Penyebabnya
antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis
(meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus
influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.
3. Meningitis
Virus (Meningitis aseptic)
Meningitis virus adalah infeksi pada meningen; cenderung jinak dan bisa sembuh sendiri. Virus biasanya bereplikasi sendiri ditempat terjadinya infeksi awal (misalnya sistem nasofaring dan saluran cerna) dan kemudian menyebar kesistem saraf pusat melalui sistem vaskuler.
Ini terjadi pada penyakit yang disebabkan oleh virus spt: campak, mumps, herpes simplek dan herpes zoster. Virus herpes simplek mengganggu metabolisme sel sehingga sell cepat mengalami nekrosis. Jenis lainnya juga mengganggu produksi enzim atau neurotransmitter yang dapat menyebabkan disfungsi sel dan gangguan neurologic.
Meningitis virus adalah infeksi pada meningen; cenderung jinak dan bisa sembuh sendiri. Virus biasanya bereplikasi sendiri ditempat terjadinya infeksi awal (misalnya sistem nasofaring dan saluran cerna) dan kemudian menyebar kesistem saraf pusat melalui sistem vaskuler.
Ini terjadi pada penyakit yang disebabkan oleh virus spt: campak, mumps, herpes simplek dan herpes zoster. Virus herpes simplek mengganggu metabolisme sel sehingga sell cepat mengalami nekrosis. Jenis lainnya juga mengganggu produksi enzim atau neurotransmitter yang dapat menyebabkan disfungsi sel dan gangguan neurologic.
4. Meningitis Jamur
Meningitis Cryptococcal adalah infeksi jamur yang mempengaruhi sistem saraf pusat pada klien dengan AIDS. Gejala klinisnya bervariasi tergantung dari system kekebalan tubuh yang akan berefek pada respon inflamasi Respon inflamasi yang ditimbulkan pada klien dengan menurunnya sistem imun antara lain: bisa demam/tidak, sakit kepala, mual, muntah dan menurunnya status mental.
Meningitis Cryptococcal adalah infeksi jamur yang mempengaruhi sistem saraf pusat pada klien dengan AIDS. Gejala klinisnya bervariasi tergantung dari system kekebalan tubuh yang akan berefek pada respon inflamasi Respon inflamasi yang ditimbulkan pada klien dengan menurunnya sistem imun antara lain: bisa demam/tidak, sakit kepala, mual, muntah dan menurunnya status mental.
2.3 Etiologi
1. Bakteri; Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok),
Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus
aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae,
Peudomonas aeruginosa
2.
Faktor
predisposisi : jenis kelamin, laki-laki lebih sering dibandingkan dengan wanita
3.
Faktor
maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir
kehamilan
4.
Faktor
imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin, anak yang
mendapat obat-obat imunosupresi.
5. Anak dengan kelainan sistem saraf
pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persarafan.
2.4 Patofisiologi
Meningitis
adalah inflamasi akut pada meninges. Organisme penyebab meningitis bakterial
memasuki areal secara langsung seabgai akibat cedera traumatik atau secara
tidak langsung bila di pindahkan dari tempat lain di dalam tubuh ke dalam
cairan serebrospinal (CSS).Berbagai agens dapat menimbulkan inflamasi pada
meninge termasuk bakteri, virus, jamur, dan zat kimia.
Meningitis terjadi akibat masuknya
bakteri ke ruang subaraknoid, baik melalui penyebaran secara hematogen,
perluasan langsung dari fokus yang berdekatan, atau sebagai akibat kerusakan
sawar anatomik normal secara konginetal, traumatik, atau pembedahan.
Bahan-bahan toksik bakteri akan menimbulkan reaksi radang berupa kemerahan
berlebih (hiperemi) dari pembuluh darah selaput otak disertai infiltrasi
sel-sel radang dan pembentukan eksudat. Perubahan ini terutama terjadi pada
infeksi bakteri streptococcus pneumoniae dan H. Influenzae dapat terjadi
pembengkakan jaringan otak, hidrosefalus dan infark dari jaringan otak.
Efek peradangan akan menyebabkan
peningkatan cairan cerebro spinalis yang dapat menyebabkan obstruksi dan
selanjutnya terjadi hidrosefalus dan peningkatan TIK. Efek patologi dari
peradangan tersebut adalah hiperemi pada meningen. Edem dan eksudasi yang
kesemuanya menyebabkan peningkatan intrakranial. (Ngastiyah. Perawatan Anak
Sakit, ed.2, 2005).
Penyebaran hematogen merupakan
penyebab tersering, dan biasa terjadi pada adanya fokus penyakit lain
(misalnya, pneumonia, otitis media, selulitis) atau akibat bakteremia spontan.
Oleh karena patogen-lazim menyebar melalui jalur pernapasan , peristiwa awalnya
adalah kolonisasi traktus respiratorius bagian atas.
Meningitis yang disebabkan oleh
penyebaran nonhematogen mencakup penyebaran infeksi dari daerah infeksi yang
berdekatan ( otitis media, mastoiditis, sinusitis, osteomielitis vertebralis
atau tulang kranialis) serta kerusakan anatomi (fraktur dasar tengkorak,
pasca-prosedur bedah saraf, atau sinus dermal konginetal di sepanjang aksis
kraniospinalis). Gambaran lazim setiap penyebab infeksi adalah masuknya bakteri
patogen ke dalam ruang subaraknoid dan perbanyakan bakteri. (Jay Tureen. Buku
Ajar Pediatri Rudolph,vol.1, 2006 )
Meningitis biasanya mulai
perlahan-lahan tanpa panas atau terdapat kenaikan suhu yang ringan saja, jarang
terjadi akut dengan panas yang tinggi. Sering dijumpai anak mudah terangsang
atau menjadi apatis dan tidurnya sering terganggu. Anak besar dapat mengeluh
nyeri kepala. Anoreksia, obstipasi, dan muntah juga sering dijumpai.
Stadium ini kemudian disusul dengan
stadium transisi dengan kejang. Gejala di atas menjadi lebih berat dan gejala
rangsangan meningeal mulai nyata, kuduk kaku, seluruh tubuh menjadi kaku dan
timbul opistotonus. Refleks tendon menjadi lebih tinggi, ubun-ubun menonjol dan
umumnya juga terdapat kelumpuhan urat saraf mata sehingga timbul gejala
strabismus dan nistagmus. Sering tuberkel terdapat di koroid. Suhu tubuh
menjadi lebih tinggi dan kesadaran lebih menurun hingga timbul stupor.
Stadium terminal berupa
kelumpuhan-kelumpuhan, koma menjadi lebih dalam, pupil melebar dan tidak
bereaksi sama sekali. Nadi dan pernapasan menjadi tidak teratur, sering terjadi
pernafasan `Cheyne-Stokes`.
Hiperpireksia timbul dan anak
meninggal tanpa kesadarannya pulih kembali. Tiga stadium tersebut biasanya
tidak mempunyai batas yang jelas antara satu dengan lainnya, namun jika tidak
diobati umumnya berlangsung 3 minggu sebelum anak meninggal. (Ngastiyah. Perawatan
Anak Sakit, ed.2, 2005
2.5
Manisfestasi klinis
Neonatus
1.
Suhu di bawah normal
2.
pucat
3.
Demam – biasanya
derajat rendah
4.
Rewel , muntah , kejang
5.
Kurang makan dan/atau mengisap
6.
Diare
7. Peningkatan
sekresi hormon SIADH ( Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone )
8.
Tonus buruk
9.
Muntah
10. Kejang
Bayi dan Anak Kecil
1.
Anoreksia , rewel
2.
Pucat , mual muntah , makin sering
menangis , minta di gendong
3.
Peningkatan tekanan intrakranial
4.
Peningkatan lingkar kepala
5.
Kejang
Anak yang Lebih Besar
1.
Sakit kepala , demam
2.
Muntah , pucat , rewel
3.
Kaku kuduk tulang belakang
4.
Syok
5.
Kejang
2.6 Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik rutin pada klien meningitis, meliputi laboratoriurn klinik rutin (Hb, leukosit, LED, trombosit, retikulosit, glukosa). Pemeriksaan faal hemostasis diperlukan untuk mengetahui secara dini adanya DIC. Serum elektrolir dan glukosa dinilai untuk mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremi.
Pemeriksaan laboratorium yang khas pada meningitis adalah analisis cairan otak. Lumbal pungsi tidak bisa dikerjakan pada pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial. Analisis cairan otak diperiksa untuk jumlah sel, protein, dan konsentrasi glukosa. Kadar glukosa darah dibandingkan dengan kadar glukosa cairan otak. Normalnya, kadar glukosa cairan otak adalah 2/3 dari nilai serum glukosa dan pada pasien meningitis kadar glukosa cairan otaknya menu run dari nilai normal.
Untuk lebih spesifik mengetahui jenis mikroba, organism penyebab infeksi dapat diidentifikasi melalui kultur kuman pada cairan serebrospinal dan darah. Counter Immuno Electrophoreses (CIE) digunakan secara luas untuk mendeteksi antigen hakteri pada cairan tubuh, umumnya cairan serebrospinal dan urine.
Pemeriksaan lainnya diperlukan sesuai klinis klien, meliputi foto rontgen paru, dan CT scan kepala. CT scan dilakukan untuk menentukan adanya edema serebral atau penyakit saraf lainnya. Hasilnya biasanya normal, kecuali pada penyakit yang sudah sangat parah.
Pemeriksaan diagnostik rutin pada klien meningitis, meliputi laboratoriurn klinik rutin (Hb, leukosit, LED, trombosit, retikulosit, glukosa). Pemeriksaan faal hemostasis diperlukan untuk mengetahui secara dini adanya DIC. Serum elektrolir dan glukosa dinilai untuk mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremi.
Pemeriksaan laboratorium yang khas pada meningitis adalah analisis cairan otak. Lumbal pungsi tidak bisa dikerjakan pada pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial. Analisis cairan otak diperiksa untuk jumlah sel, protein, dan konsentrasi glukosa. Kadar glukosa darah dibandingkan dengan kadar glukosa cairan otak. Normalnya, kadar glukosa cairan otak adalah 2/3 dari nilai serum glukosa dan pada pasien meningitis kadar glukosa cairan otaknya menu run dari nilai normal.
Untuk lebih spesifik mengetahui jenis mikroba, organism penyebab infeksi dapat diidentifikasi melalui kultur kuman pada cairan serebrospinal dan darah. Counter Immuno Electrophoreses (CIE) digunakan secara luas untuk mendeteksi antigen hakteri pada cairan tubuh, umumnya cairan serebrospinal dan urine.
Pemeriksaan lainnya diperlukan sesuai klinis klien, meliputi foto rontgen paru, dan CT scan kepala. CT scan dilakukan untuk menentukan adanya edema serebral atau penyakit saraf lainnya. Hasilnya biasanya normal, kecuali pada penyakit yang sudah sangat parah.
2.7 Komplikasi
1. Tuli , buta
2. Hidrosefalus
3. Edema
serebral
4. Gangguan
kejang kronis
5.Perkembangan
terlambat dan gangguan intelektual
BAB III
Asuhan Keperawatan Meningitis Pada Anak
3.1 Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 15 Oktober 2015 pukul 10.00 WIB di Ruang anak RSUD Dr. M. Djamil
Padang.
Pengkajian
meliputi :
·
Biodata klien
Nama
: By. L
Tempat tanggal lahir
: Padang, 17 november
2013
Usia
: 22 bln 18 hari / 1 tahun 10 bln 18 hari
Jenis kelamin
: Perempuan.
Nama ayah/ ibu
: Tn. S/ Ny. S
Pendidikan ayah/ ibu
: SMA/ SMP
Agama
: Islam
Alamat
: Belimbing
·
Riwayat kesehatan yang lalu
1) Apakah pernah
menderita penyakit ISPA dan TBC ?
2) Apakah pernah jatuh
atau trauma kepala ?
3) Pernahkah operasi
daerah kepala ?
·
Riwayat kesehatan sekarang
1) Aktivitas
Gejala :
Perasaan tidak enak (malaise).
Tanda :
ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.
2) Sirkulasi
Gejala :
Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK.
Tanda :
tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, taikardi,
disritmia.
3) Eliminasi
Tanda : Inkontinensi dan atau
retensi.
4) Makanan/cairan
Gejala : Kehilangan nafsu makan,
sulit menelan.
Tanda : anoreksia, muntah, turgor
kulit jelek dan membran mukosa kering.
5) Higiene
Tanda :
Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.
6) Neurosensori
Gejala :Sakit kepala, parestesia,
terasa kaku pada persarafan yang terkena, kehilangan sensasi, hiperalgesia,
kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan halusinasi penciuman.
Tanda :letargi sampai kebingungan
berat hingga koma, delusi dan halusinasi, kehilangan memori, afasia,anisokor,
nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal, hemiparese, tanda brudzinki positif dan
atau kernig positif, rigiditas nukal, babinski positif,reflek abdominal menurun
dan reflek kremastetik hilang pada laki-laki.
7) Nyeri/keamanan
Gejala :
sakit kepala(berdenyut hebat, frontal).
Tanda :
gelisah, menangis.
8) Pernafasan
Gejala :
riwayat infeksi sinus atau paru.
Tanda :
peningkatan kerja pernafasan.
3.2
Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri kepala yang
berhubungan dengan iritasi selaput dan jaringan otak.
2. Risiko tinggi terhadap
penyebaran infeksi b.d diseminata hematogen dari patogen.
3. Gangguan mobilitas fisik
b.d kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan
4. Risiko tinggi cedera yang
berhubungan dengan adanya kejang berulang, fiksasi kurang optimal.
3.3 Intervensi Keperawatan
Diagnosa 1: Nyeri
kepala yang berhubungan dengan iritasi selaput dan jaringan otak.
Tujuan:
dalam waktu 3x24 jam keluhan nyeri berkurang/rasa sakit terkendali.
Kriteria
hasil:
klien dapat tidur dengan tenang
wajah rileks
dan klien memverbalisasikan
penurunan rasa sakit.
Intervensi
1. Usahakan membuat lingkungan yang aman dan tenang.
R/ Menurunkan reaksi terhadap ransangan eksternal atau kesensitifan
terhadap cahaya dan menganjurkan klien untuk beristirahat.
2. Compress dingin (es) pada kepala.
R/ Dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah otak.
3. Lakukan penatalaksanaan nyeri dengan metode distraksi
dan relaksasi nafas dalam.
R/ Membantu menurunkan (memutuskan ) stimulassi rasa nyeri.
4. Lakukan latihan gerak aktif atau pasif sesuai kondisi
dengan lembut dan hati
R/ Dapat membantu ralaksasi otot-otot yang tegang dan dapat menurunkan
nyeri atau rasa tidak nyaman.
5. Kolaborasi pemberian analgesic.
R/ Pemberian analgesic dapat menurunkan rasa nyeri.
Diagnosa 2: Risiko
tinggi terhadap penyebaran infeksi b.d diseminata hematogen dari patogen.
Tujuan :
Setelah dilakukan askep selama 1x24 jam penyebaran infeksi tidak terjadi
penyebaran infeksi.
Dengan KH :
· Tidak ada tanda – tanda penyebaran
infeksi
· RR 16-20x/menit
· Nadi 60-100x/menit
· Suhu 36-37ºC
Intervensi
1.
Lakukan Healt Education tentang akibat dan penyebaran infeksi
R : Pasien
dapat mengetahui penyebab dan akibat penyebaran infeksi
2.
Berikan isolasi sebagai pencegahan
R : Pada
fase awal meningitis, isolasi mungkin diperlukan sampai organisme
diketahui/dosis antibiotik yang cocok telah diberikan untuk menurunkan resiko
penyebaran pada orang lain
3.
Pertahankan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat.
R :
Menurunkan resiko pasien terkena infeksi sekunder. Mengontrol penyebaran sumber
infeksi
4.
Ubah posisi pasien secara teratur, dianjurkan nafas dalam
R :
Memobilisasi secret dan meningkatkan kelancaran secret yang akan menurunkan
resiko terjadinya komplikasi terhadap pernapasan
5.
Observasi TTV pasien
R : TTV
pasien dapat terpantau
6.
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi seperti antibiotik iv:
penisilin G, ampisilin, klorampenikol, gentamisin
R : Obat yang
dipilih tergantung pada tipe infeksi dan sensitivitas individu
Diagnosa 3: Kerusakan
mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan
Tujuan :
Setelah dilakukan selama 1x24 jam kerusakan mobilitas fisik tidak terjadi,
Dengan KH :
· Pasien dapat melakukan mobilisasi dengan
baik
Intervensi
1.
Lakukan Healt Education tentang faktor dan penyebab kerusakan mobilitas fisik
R : pasien dapat
mengerti tentang faktor dan penyebab kerusakan mobilitas fisik
2.
Bantu latihan rentang gerak.
R : Mempertahankan
mobilisasidan fungsi sendi/posisi normal akstremitas dan menurunkan terjadinya
vena yang statis
3.
Berikan perawatan kulit, masase dengan pelembab.
R :
Meningkatkan sirkulasi, elastisitas kulit, dan menurunkan resiko terjadinya ekskoriasi
kulit
4.
Berikan matras udara atau air, perhatikan kesejajaran tubuh secara fumgsional.
R :
Menyeimbangkan tekanan jaringan, meningkatkan sirkulasi dan membantu
meningkatkan arus balik vena untuk menurunkan resiko terjadinya trauma
jaringan.
5.
Observasi mobilisasi pasien
R :
Mobilisasi pasien dapat teppantau
6. Lakukan
kolaborasi dengan tim medis tetang program latihan dan penggunaan alat
mobiluisasi.
R : Proses
penyembuhan yang lambat seringkali menyertai trauma kepala dan pemulihan secara
fisik merupakan bagian yang amat penting dari suatu program pemulihan tersebut
Diagnosa 4: Risiko
tinggi cedera yang berhubungan dengan adanya kejang berulang, fiksasi kurang
optimal.
Tujuan:
dalam waktu 3x24 jam , klien bebas dari cedera yang disebabkan oleh kejang dan
penurunan kesadaran.
Kriteria
hasil:
klien tidak mengalami cedera apabila ada kejang
berulang.
Intervensi
1. Monitor kejang pada tangan, kaki, mulut, dan
otot-otot muka lainnya.
R/ Gambaran iritabilitas system saraf pusat memerlukan evaluasi yang sesuai
dengan intervensi yang dapat untuk mencegah terjadinya komplikasi.
2. Persiapkan lingkungan yang
aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat klien.
R/ Melindungi klien bila kejang terjadi.
3. Pertahankan bedrest total
selama fase akut.
R/ Mengurangi risiko jatuh/cidera
jika terjadi vertigo dan ataksia.
4. Kolaborasi pemberian terapi;
diazepam, fenobarbital.
R/ Untuk mencegah atau mengurangi kejang.
3.4 Evaluasi
Angka motalitas meningitis sangat bervariasi, tergantung pada usia pasien dan patogen penyebab. Pasien dengan meningitis meningokokus tanpa meningokoksemia berat mempunyai angka fatalitas sebesar hanya 20%, sedangkan neonatus dengan meningitis gram negative meninggal dalam 70 kasus. Angka kematian akibat H. influenzae dan S. pneumoniae masing-masing adalah sekitar 3% dan 6%.
Gejala sisa penyakit terjadi pada kira-kira 30% penderita yang bertahan hidup, tetapi juga terdapat predileksi usia serta petogen, dengan insidensi terbesar pada bayi yang sangat muda serta bayi yang terinfeksi bakteri gram negative dan S. pneumoniea.
Gejala sisa neurologi tersering adalah tuli, yang terjadi pada 3-25% pasien; kelumpuhan saraf kranial pada 2-7% pasien; dan cidera berat seperti hemiparesis atau cidera otaku mum pada 1-2% pasien. Lebih dari 50% pasien dengan gejala sisa neurologi pada saat pemulangan dari RS akan membaik seiring waktu, dan keberhasilan dalam implant koklea belum lama ini memberi harapan pada anak dengan kehilangan pendengaran.
Imunisasi aktiv terhadap H. influenzae telah menghasilkan penguangan dramatis pada penyakit invasive, dengan pengurangan sebanyak 70-80% pada meningitis akibat organisme tersebut. Saat ini imunisasi dianjurkan untuk bayi sebagai rangkain imunisasi tiga dosis pada usia 2,4,6 bulan.
Angka motalitas meningitis sangat bervariasi, tergantung pada usia pasien dan patogen penyebab. Pasien dengan meningitis meningokokus tanpa meningokoksemia berat mempunyai angka fatalitas sebesar hanya 20%, sedangkan neonatus dengan meningitis gram negative meninggal dalam 70 kasus. Angka kematian akibat H. influenzae dan S. pneumoniae masing-masing adalah sekitar 3% dan 6%.
Gejala sisa penyakit terjadi pada kira-kira 30% penderita yang bertahan hidup, tetapi juga terdapat predileksi usia serta petogen, dengan insidensi terbesar pada bayi yang sangat muda serta bayi yang terinfeksi bakteri gram negative dan S. pneumoniea.
Gejala sisa neurologi tersering adalah tuli, yang terjadi pada 3-25% pasien; kelumpuhan saraf kranial pada 2-7% pasien; dan cidera berat seperti hemiparesis atau cidera otaku mum pada 1-2% pasien. Lebih dari 50% pasien dengan gejala sisa neurologi pada saat pemulangan dari RS akan membaik seiring waktu, dan keberhasilan dalam implant koklea belum lama ini memberi harapan pada anak dengan kehilangan pendengaran.
Imunisasi aktiv terhadap H. influenzae telah menghasilkan penguangan dramatis pada penyakit invasive, dengan pengurangan sebanyak 70-80% pada meningitis akibat organisme tersebut. Saat ini imunisasi dianjurkan untuk bayi sebagai rangkain imunisasi tiga dosis pada usia 2,4,6 bulan.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Otak dan sumsum otak belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan dengan sekresi sejenis cairan yaitu cairan serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu:
a. Pia meter, merupakan lapisan yang menyelipkan dirinya ke dalam celah pada otak dan sumsum tulang belakang dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat akan menyediakan darah untuk struktur-struktur ini.
b. Arachnoid, merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan dura meter.
c. Dura meter, merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat.
Otak dan sumsum otak belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan dengan sekresi sejenis cairan yaitu cairan serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu:
a. Pia meter, merupakan lapisan yang menyelipkan dirinya ke dalam celah pada otak dan sumsum tulang belakang dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat akan menyediakan darah untuk struktur-struktur ini.
b. Arachnoid, merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan dura meter.
c. Dura meter, merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat.
Komponen intrakaranial terdiri dari: parenkim otak, sistem
pembuluh darah, dan CSF. Apabila salah satu komponen terganggu, akan
mengakibatkan peningkatan tekanan intrakranial, yang akhirnya akan menurunkan
fungsi neurologis.
Meningitis merupakan salah satu jenis infeksi yang menyerang
susunan saraf pusat, dimana angka kejadiannya masih tinggi di Indonesia. Pada
banyak penyakit yang mempunyai mobiditas dan mortalitas yang tinggi, prognosis
penyakit sangat ditentukan pada permulaan pengobatan. Beberapa bakteri penyebab
meningitis ini tidak mudah menular seperti penyakit flu, pasien meningitis
tidak menularkan penyakit melalui saluran pernapasan. Resiko terjadinya
penularan sangat tinggi pada anggota keluarga serumah, penitipan anak, kontak
langsung cairan ludah seperti berciuman. Perlu diketahui juga bahwa bayi dengan
ibu yang menderita TBC sangat rentan terhadap penyakit ini.
Diagnose keperawatan yang muncul tergantung dengan kondisi
saat pengkajian, tapi yang utama adalah Nyeri berhubungan dengan proses
inflamasi; resiko terjadi peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan
Infeksi pada selaput otak; resiko cedera berhubungan dengan kejang, reflek
meningkat; perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita
penyakit serius.
4.2 Saran
Pembaca diharapkan dapat mengerti dan memahami gejala meningitis sangat penting untuk dapat menegakkan diagnosis sedini mungkin karena diagnosis dan pengobatan dini dapat mencegah terjadinya komplikasi yang bersifat fatal serta mengetahui penyebab meningitis sangat penting untuk menentukan jenis pengobatan yang diberikan. Sekedar menambah informasi, vaksin untuk mencegah terjadinya meningitis bakterial telah tersedia, dan sangat dianjurkan untuk diberikan jika berada atau akan berkunjung ke daerah epidemik.
Pembaca diharapkan dapat mengerti dan memahami gejala meningitis sangat penting untuk dapat menegakkan diagnosis sedini mungkin karena diagnosis dan pengobatan dini dapat mencegah terjadinya komplikasi yang bersifat fatal serta mengetahui penyebab meningitis sangat penting untuk menentukan jenis pengobatan yang diberikan. Sekedar menambah informasi, vaksin untuk mencegah terjadinya meningitis bakterial telah tersedia, dan sangat dianjurkan untuk diberikan jika berada atau akan berkunjung ke daerah epidemik.
DAFTAR PUSTAKA
Luanne Linard –
Palmer (2013) intisari
pedriatrik,jakarta EGC
Bedrof
H:Prevention, treatment, and outcomes of bacterial meningitis in childhood,
prof nurs 17:100,
2001
Richard E.
Behrman, MD . Victor C.Vaughan,III,MD , ilmu kesehatan anak bagian 1 , 1998
Cecily lynn
betz – linda a sowden.2004.keperawatan pediatriEd5.Jakarta:Kedokteran EGC
Alpers,Ann.2006.Buku Ajar Pediatri
Rudolph. Ed.20.Jakarta:EGC.
Http://www.anneahira.com
Brough,Hellen,et al.2007.Rujukan Cepat Pediatri dan Kesehatan Anak.Jakarta:EGC.
Suriadi, Rita Yuliani.2006.Asuhan keperawatan pada Anak Ed.2.Jakarta:Percetakan Penebar Swadaya
Http://www.anneahira.com
Brough,Hellen,et al.2007.Rujukan Cepat Pediatri dan Kesehatan Anak.Jakarta:EGC.
Suriadi, Rita Yuliani.2006.Asuhan keperawatan pada Anak Ed.2.Jakarta:Percetakan Penebar Swadaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar