Rabu, 22 April 2015

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK “ASKEP MENINGITIS PADA ANAK”

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK
ASKEP MENINGITIS PADA ANAK
Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan anak




AKADEMI KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH CIREBON
TAHUN AJARAN 2015/2016




KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt. Yang telah memberikan rahmad dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan segala keterbatasan.

Makalah ini dibuat sebagai tugas mata kuliah
Keperawatan Anak, yang merupakan salah satu mata kuliah dalam Program Akper Muhammadiyah Cirebon. Dan juga dapat digunakan sebagai salah satu literatur dalam proses belajar Anak di kelas.

Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Akan tetapi, dalam makalah ini terdapat kekurangan untuk itu dengan sangat kami senantiasa menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, kami berharap para pembaca dapat memanfaatkan makalah ini, baik bagi kepentingan-kepentingan praktis di dalam kelas maupun untuk pengembangan ilmu pengetahuan.













DAFTAR ISI
Kata Pengatar...................................................................................................
Daftar Isi..........................................................................................................
BAB I Pendahuluan.........................................................................................
1.1  Latar Belakang...........................................................................................
1.2  Tujuan Penulisan.........................................................................................
1.2.1 Tujuan Umum..........................................................................................
1.2.2 Tujuan Khusus.........................................................................................
1.3  Sistematika Penulisan.................................................................................

BAB II Tinjauan Teori.....................................................................................
2.1 Definisi.......................................................................................................
2.2 Klasifikasi...................................................................................................
2.3 Etiologi.......................................................................................................
2.4 Patofisiologi................................................................................................
2.5 Manisfestasi Klinis.....................................................................................
2.6 Pemeriksaan Diagnostik.............................................................................
2.7 Komplikasi..................................................................................................
BAB III Asuhan Keperawatan Meningitis Pada Anak....................................
3.1 Pengkajian..................................................................................................
3. 2 Diagnosa Keperawatan..............................................................................
3.3 Intervensi....................................................................................................
3.4 Evaluasi......................................................................................................
BAB IV PENUTUP.........................................................................................
4.1 Kesimpulan.................................................................................................
4.2 Saran...........................................................................................................
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
     Penyakit infeksi di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan yang utama. Salah satu penyakit tersebut adalah infeksi susunan saraf pusat. Penyebab infeksi susunan saraf pusat adalah virus, bakteri atau mikroorganisme lain. Meningitis merupakan penyakit infeksi dengan angka kematian berkisar antara 18-40% dan angka kecacatan 30-50%.
     Bakteri penyebab meningitis ditemukan di seluruh dunia, dengan angka kejadian penyakit yang bervariasi. Di Indonesia, dilaporkan bahwa Haemophilus influenzae tipe B ditemukan pada 33% diantara kasus meningitis.
Pada penelitian lanjutan, didapatkan 38% penyebab meningitis pada anak kurang dari 5 tahun. Di Australia pada tahun 1995 meningitis yang disebabkan Neisseria meningitidis 2,1 kasus per 100.000 populasi, dengan puncaknya pada usia 0 – 4 tahun dan 15 – 19 tahun . Sedangkan kasus meningitis yang disebabkan Steptococcus pneumoniae angka kejadian pertahun 10 – 100 per 100.000 populasi pada anak kurang dari 2 tahun dan diperkirakan ada 3000 kasus per tahun untuk seluruh kelompok usia, dengan angka kematian pada anak sebesar 15%, retardasi mental 17%, kejang 14% dan gangguan pendengaran 28%.
1.2. Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan memahami tenteng asuhan keperawatan meningitis
1.2.2  Tujuan Khusus
1.
Mengetahui dan Memahami tentang pengertian dari meningitis
2.
Mengetahui dan Memahami tentang etiologi dari meningitis
3.
Mengetahui dan Memahami tentang patofisiologi/pathway dari meningitis
4.
Mengetahui dan Memahami tentang manifestasi klinis dari meningitis
5.
Mengetahui dan Memahami tentang pemerikaan diagnosa dari meningitis
6.
Mengetahui dan Memahami tentang penatalaksanaan medis dari meningitis
7.
Mengetahui Memahami tentang pengkajian keperawatan meningitis
8.
Mengetahui dan Memahami tentang diagnosa keperawatan yang muncul pada anak   dengan meningitis
9.
Mengetahui dan Memahami tentang perencanaan keperawatan meningitis
         10. Mengetahui dan Memahami tentang evaluasi keperawatan meningitis
1.3 Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini, penulis membagi maklah ini dalam 4 BAB yang terdiri dari:
BAB I Pendahuluan terdiri dari: Latar belakang, Tujuan penulisan, Sistematika penulisan
   BABII Tinjaun Teori terdiri dari: Definisi , Klasifikasi , Etiologi , Patofisiologi, Manisfestasi klinis, Pemeriksaan diagnostik , Komplikasi,
   BAB IV Asuhan Keperawatan Meningitis Pada Anak : Pengkajian, Diagnosa keperawatan, Intervensi, Evaluasi
BAB III Penutup : Kesimpulan dan Saran
Daftar pustaka














BAB II
TINJAUAN TEORI 
2.1 Definisi
Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur(Smeltzer, 2001).
Meningitis merupakan inflamasi akut dalam meningen. Yaitu lapisan jaringan yang mengelilingi otak dan korda spinal. Ketika organisme menginvasi meningen, cairan serebrospinal menyebarkan agens infeksius ke otak dan jaringan sekitar neonatus memiliki prognosis terburuk dan kesempatan terbesar untuk mengalami sekuela neurologis.
2.2 Klasifikasi
Jenis – jenis meningitis yaitu:
1.   Meningitis bakterial
            melalui invasi langsung atau invasi tidak langsung dan infeksi pada lokasi tubuhyang lain (gigi, sinus , paru , tonsil)
2.   Meningitis purulenta 
Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.
3. Meningitis Virus (Meningitis aseptic)
           Meningitis virus adalah infeksi pada meningen; cenderung jinak dan bisa sembuh sendiri. Virus biasanya bereplikasi sendiri ditempat terjadinya infeksi awal (misalnya sistem nasofaring dan saluran cerna) dan kemudian menyebar kesistem saraf pusat melalui sistem vaskuler.
Ini terjadi pada penyakit yang disebabkan oleh virus spt: campak, mumps, herpes simplek dan herpes zoster. Virus herpes simplek mengganggu metabolisme sel sehingga sell cepat mengalami nekrosis. Jenis lainnya juga mengganggu produksi enzim atau neurotransmitter yang dapat menyebabkan disfungsi sel dan gangguan neurologic.
4. Meningitis Jamur
           Meningitis Cryptococcal adalah infeksi jamur yang mempengaruhi sistem saraf pusat pada klien dengan AIDS. Gejala klinisnya bervariasi tergantung dari system kekebalan tubuh yang akan berefek pada respon inflamasi Respon inflamasi yang ditimbulkan pada klien dengan menurunnya sistem imun antara lain: bisa demam/tidak, sakit kepala, mual, muntah dan menurunnya status mental.


2.3 Etiologi
1.      Bakteri; Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa
2.      Faktor predisposisi : jenis kelamin, laki-laki lebih sering dibandingkan dengan wanita
3.      Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan
4.      Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin, anak yang mendapat obat-obat imunosupresi.
5.       Anak dengan kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persarafan.
2.4 Patofisiologi
Meningitis adalah inflamasi akut pada meninges. Organisme penyebab meningitis bakterial memasuki areal secara langsung seabgai akibat cedera traumatik atau secara tidak langsung bila di pindahkan dari tempat lain di dalam tubuh ke dalam cairan serebrospinal (CSS).Berbagai agens dapat menimbulkan inflamasi pada meninge termasuk bakteri, virus, jamur, dan zat kimia.
Meningitis terjadi akibat masuknya bakteri ke ruang subaraknoid, baik melalui penyebaran secara hematogen, perluasan langsung dari fokus yang berdekatan, atau sebagai akibat kerusakan sawar anatomik normal secara konginetal, traumatik, atau pembedahan. Bahan-bahan toksik bakteri akan menimbulkan reaksi radang berupa kemerahan berlebih (hiperemi) dari pembuluh darah selaput otak disertai infiltrasi sel-sel radang dan pembentukan eksudat. Perubahan ini terutama terjadi pada infeksi bakteri streptococcus pneumoniae dan H. Influenzae dapat terjadi pembengkakan jaringan otak, hidrosefalus dan infark dari jaringan otak.
Efek peradangan akan menyebabkan peningkatan cairan cerebro spinalis yang dapat menyebabkan obstruksi dan selanjutnya terjadi hidrosefalus dan peningkatan TIK. Efek patologi dari peradangan tersebut adalah hiperemi pada meningen. Edem dan eksudasi yang kesemuanya menyebabkan peningkatan intrakranial. (Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit, ed.2, 2005).
Penyebaran hematogen merupakan penyebab tersering, dan biasa terjadi pada adanya fokus penyakit lain (misalnya, pneumonia, otitis media, selulitis) atau akibat bakteremia spontan. Oleh karena patogen-lazim menyebar melalui jalur pernapasan , peristiwa awalnya adalah kolonisasi traktus respiratorius bagian atas.
Meningitis yang disebabkan oleh penyebaran nonhematogen mencakup penyebaran infeksi dari daerah infeksi yang berdekatan ( otitis media, mastoiditis, sinusitis, osteomielitis vertebralis atau tulang kranialis) serta kerusakan anatomi (fraktur dasar tengkorak, pasca-prosedur bedah saraf, atau sinus dermal konginetal di sepanjang aksis kraniospinalis). Gambaran lazim setiap penyebab infeksi adalah masuknya bakteri patogen ke dalam ruang subaraknoid dan perbanyakan bakteri. (Jay Tureen. Buku Ajar Pediatri Rudolph,vol.1, 2006 )
Meningitis biasanya mulai perlahan-lahan tanpa panas atau terdapat kenaikan suhu yang ringan saja, jarang terjadi akut dengan panas yang tinggi. Sering dijumpai anak mudah terangsang atau menjadi apatis dan tidurnya sering terganggu. Anak besar dapat mengeluh nyeri kepala. Anoreksia, obstipasi, dan muntah juga sering dijumpai.
Stadium ini kemudian disusul dengan stadium transisi dengan kejang. Gejala di atas menjadi lebih berat dan gejala rangsangan meningeal mulai nyata, kuduk kaku, seluruh tubuh menjadi kaku dan timbul opistotonus. Refleks tendon menjadi lebih tinggi, ubun-ubun menonjol dan umumnya juga terdapat kelumpuhan urat saraf mata sehingga timbul gejala strabismus dan nistagmus. Sering tuberkel terdapat di koroid. Suhu tubuh menjadi lebih tinggi dan kesadaran lebih menurun hingga timbul stupor.
Stadium terminal berupa kelumpuhan-kelumpuhan, koma menjadi lebih dalam, pupil melebar dan tidak bereaksi sama sekali. Nadi dan pernapasan menjadi tidak teratur, sering terjadi pernafasan `Cheyne-Stokes`.
Hiperpireksia timbul dan anak meninggal tanpa kesadarannya pulih kembali. Tiga stadium tersebut biasanya tidak mempunyai batas yang jelas antara satu dengan lainnya, namun jika tidak diobati umumnya berlangsung 3 minggu sebelum anak meninggal. (Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit, ed.2, 2005

2.5 Manisfestasi klinis
Neonatus
1.      Suhu di bawah normal
2.      pucat
3.      Demam – biasanya derajat rendah
4.      Rewel , muntah , kejang
5.      Kurang makan dan/atau mengisap
6.      Diare
7.      Peningkatan sekresi hormon SIADH ( Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone )
8.      Tonus buruk
9.      Muntah
10.  Kejang

Bayi dan Anak Kecil 
1.      Anoreksia , rewel
2.      Pucat , mual muntah , makin sering menangis , minta di gendong
3.      Peningkatan tekanan intrakranial
4.      Peningkatan lingkar kepala
5.      Kejang

Anak yang Lebih Besar
1.      Sakit kepala , demam
2.      Muntah , pucat , rewel
3.      Kaku kuduk tulang belakang
4.      Syok
5.      Kejang

2.6 Pemeriksaan Diagnostik
                  Pemeriksaan diagnostik rutin pada klien meningitis, meliputi laboratoriurn klinik rutin (Hb, leukosit, LED, trombosit, retikulosit, glukosa). Pemeriksaan faal hemostasis diperlukan untuk mengetahui secara dini adanya DIC. Serum elektrolir dan glukosa dinilai untuk mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremi.
Pemeriksaan laboratorium yang khas pada meningitis adalah analisis cairan otak. Lumbal pungsi tidak bisa dikerjakan pada pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial. Analisis cairan otak diperiksa untuk jumlah sel, protein, dan konsentrasi glukosa. Kadar glukosa darah dibandingkan dengan kadar glukosa cairan otak. Normalnya, kadar glukosa cairan otak adalah 2/3 dari nilai serum glukosa dan pada pasien meningitis kadar glukosa cairan otaknya menu run dari nilai normal.
Untuk lebih spesifik mengetahui jenis mikroba, organism penyebab infeksi dapat diidentifikasi melalui kultur kuman pada cairan serebrospinal dan darah. Counter Immuno Electrophoreses (CIE) digunakan secara luas untuk mendeteksi antigen hakteri pada cairan tubuh, umumnya cairan serebrospinal dan urine.
Pemeriksaan lainnya diperlukan sesuai klinis klien, meliputi foto rontgen paru, dan CT scan kepala. CT scan dilakukan untuk menentukan adanya edema serebral atau penyakit saraf lainnya. Hasilnya biasanya normal, kecuali pada penyakit yang sudah sangat parah.

2.7 Komplikasi
1. Tuli , buta
2. Hidrosefalus
3. Edema serebral
4. Gangguan kejang kronis
5.Perkembangan terlambat dan gangguan intelektual





BAB III
Asuhan Keperawatan Meningitis Pada Anak

 3.1 Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 15 Oktober 2015 pukul 10.00 WIB di Ruang anak  RSUD Dr. M. Djamil Padang.
Pengkajian meliputi :
·         Biodata klien 
Nama                                       : By. L
Tempat tanggal lahir                : Padang, 17 november 2013
Usia                                         : 22 bln 18 hari / 1 tahun 10 bln 18 hari
Jenis kelamin                           : Perempuan.
Nama ayah/ ibu                       : Tn. S/ Ny. S
Pendidikan ayah/ ibu               : SMA/ SMP
Agama                                     : Islam
Alamat                                     : Belimbing

·         Riwayat kesehatan yang lalu
1)   Apakah pernah menderita penyakit ISPA dan TBC ?
2)   Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ?
3)   Pernahkah operasi daerah kepala ?
·         Riwayat kesehatan sekarang
1)  Aktivitas
Gejala : Perasaan tidak enak (malaise).
Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.
2)  Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK.
Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, taikardi, disritmia.
3)  Eliminasi
Tanda : Inkontinensi dan atau retensi.
4)  Makanan/cairan
Gejala : Kehilangan nafsu makan, sulit menelan.
Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.
5)  Higiene
Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.
6)  Neurosensori
Gejala :Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena, kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan halusinasi penciuman.
Tanda :letargi sampai kebingungan berat hingga koma, delusi dan halusinasi, kehilangan memori, afasia,anisokor, nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal, hemiparese, tanda brudzinki positif dan atau kernig positif, rigiditas nukal, babinski positif,reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada laki-laki.
7)  Nyeri/keamanan
Gejala : sakit kepala(berdenyut hebat, frontal).
Tanda : gelisah, menangis.
8)  Pernafasan
Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru.
Tanda : peningkatan kerja pernafasan.

 3.2 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri kepala yang berhubungan dengan iritasi selaput dan jaringan otak.
2. Risiko tinggi terhadap penyebaran infeksi b.d diseminata hematogen dari patogen.
3. Gangguan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan
4. Risiko tinggi cedera yang berhubungan dengan adanya kejang berulang, fiksasi kurang optimal.

3.3 Intervensi Keperawatan
Diagnosa 1: Nyeri kepala yang berhubungan dengan iritasi selaput dan jaringan otak.
Tujuan: dalam waktu 3x24 jam keluhan nyeri berkurang/rasa sakit terkendali.
Kriteria hasil:
  klien dapat tidur dengan tenang
  wajah rileks
  dan klien memverbalisasikan penurunan rasa sakit.
Intervensi
1.    Usahakan membuat lingkungan yang aman dan tenang.
R/ Menurunkan reaksi terhadap ransangan eksternal atau kesensitifan terhadap cahaya dan menganjurkan klien untuk beristirahat.
2.    Compress dingin (es) pada kepala.
R/ Dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah otak.
3.    Lakukan penatalaksanaan nyeri dengan metode distraksi dan relaksasi nafas dalam.
R/ Membantu menurunkan (memutuskan ) stimulassi rasa nyeri.
4.    Lakukan latihan gerak aktif atau pasif sesuai kondisi dengan lembut dan hati
R/ Dapat membantu ralaksasi otot-otot yang tegang dan dapat menurunkan nyeri atau rasa tidak nyaman.
5.    Kolaborasi pemberian analgesic.
R/ Pemberian analgesic dapat menurunkan rasa nyeri.
Diagnosa 2: Risiko tinggi terhadap penyebaran infeksi b.d diseminata hematogen dari patogen.
Tujuan : Setelah dilakukan askep selama 1x24 jam penyebaran infeksi tidak terjadi penyebaran infeksi.
Dengan KH :
·         Tidak ada tanda – tanda penyebaran infeksi
·         RR 16-20x/menit
·         Nadi 60-100x/menit
·         Suhu 36-37ºC
Intervensi
1.    Lakukan Healt Education tentang akibat dan penyebaran infeksi
R : Pasien dapat mengetahui penyebab dan akibat penyebaran infeksi
2.    Berikan isolasi sebagai pencegahan
R : Pada fase awal meningitis, isolasi mungkin diperlukan sampai organisme diketahui/dosis antibiotik yang cocok telah diberikan untuk menurunkan resiko penyebaran pada orang lain
3.    Pertahankan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat.
R : Menurunkan resiko pasien terkena infeksi sekunder. Mengontrol penyebaran sumber infeksi
4.    Ubah posisi pasien secara teratur, dianjurkan nafas dalam
R : Memobilisasi secret dan meningkatkan kelancaran secret yang akan menurunkan resiko terjadinya komplikasi terhadap pernapasan
5.    Observasi TTV pasien
R : TTV pasien dapat terpantau
6.    Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi seperti antibiotik iv: penisilin G, ampisilin, klorampenikol, gentamisin
R : Obat yang dipilih tergantung pada tipe infeksi dan sensitivitas individu
Diagnosa 3: Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan
Tujuan : Setelah dilakukan selama 1x24 jam kerusakan mobilitas fisik tidak terjadi, Dengan KH :
·         Pasien dapat melakukan mobilisasi dengan baik
Intervensi
1.    Lakukan Healt Education tentang faktor dan penyebab kerusakan mobilitas fisik
R : pasien dapat mengerti tentang faktor dan penyebab kerusakan mobilitas fisik
2.    Bantu latihan rentang gerak.
R : Mempertahankan mobilisasidan fungsi sendi/posisi normal akstremitas dan menurunkan terjadinya vena yang statis
3.    Berikan perawatan kulit, masase dengan pelembab.
R : Meningkatkan sirkulasi, elastisitas kulit, dan menurunkan resiko terjadinya ekskoriasi kulit
4.    Berikan matras udara atau air, perhatikan kesejajaran tubuh secara fumgsional.
R : Menyeimbangkan tekanan jaringan, meningkatkan sirkulasi dan membantu meningkatkan arus balik vena untuk menurunkan resiko terjadinya trauma jaringan.
5.    Observasi mobilisasi pasien
R : Mobilisasi pasien dapat teppantau
6.   Lakukan kolaborasi dengan tim medis tetang program latihan dan penggunaan alat mobiluisasi.
R : Proses penyembuhan yang lambat seringkali menyertai trauma kepala dan pemulihan secara fisik merupakan bagian yang amat penting dari suatu program pemulihan tersebut


Diagnosa 4: Risiko tinggi cedera yang berhubungan dengan adanya kejang berulang, fiksasi kurang optimal.
Tujuan: dalam waktu 3x24 jam , klien bebas dari cedera yang disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran.
Kriteria hasil:
      klien tidak mengalami cedera apabila ada kejang berulang.

Intervensi
1.        Monitor  kejang pada tangan, kaki, mulut, dan otot-otot muka lainnya.
R/ Gambaran iritabilitas system saraf pusat memerlukan evaluasi yang sesuai dengan intervensi yang dapat untuk mencegah terjadinya komplikasi.
2.        Persiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat klien.
R/ Melindungi klien bila kejang terjadi.
3.        Pertahankan bedrest total selama fase akut.
R/  Mengurangi risiko jatuh/cidera jika terjadi vertigo dan ataksia.
4.        Kolaborasi pemberian terapi; diazepam, fenobarbital.
R/ Untuk mencegah atau mengurangi kejang.
3.4 Evaluasi
        Angka motalitas meningitis sangat bervariasi, tergantung pada usia pasien dan patogen penyebab. Pasien dengan meningitis meningokokus tanpa meningokoksemia berat mempunyai angka fatalitas sebesar hanya 20%, sedangkan neonatus dengan meningitis gram negative meninggal dalam 70 kasus. Angka kematian akibat H. influenzae dan S. pneumoniae masing-masing adalah sekitar 3% dan 6%.
Gejala sisa penyakit terjadi pada kira-kira 30% penderita yang bertahan hidup, tetapi juga terdapat predileksi usia serta petogen, dengan insidensi terbesar pada bayi yang sangat muda serta bayi yang terinfeksi bakteri gram negative dan S. pneumoniea.
Gejala sisa neurologi tersering adalah tuli, yang terjadi pada 3-25% pasien; kelumpuhan saraf kranial pada 2-7% pasien; dan cidera berat seperti hemiparesis atau cidera otaku mum pada 1-2% pasien. Lebih dari 50% pasien dengan gejala sisa neurologi pada saat pemulangan dari RS akan membaik seiring waktu, dan keberhasilan dalam implant koklea belum lama ini memberi harapan pada anak dengan kehilangan pendengaran.
Imunisasi aktiv terhadap H. influenzae telah menghasilkan penguangan dramatis pada penyakit invasive, dengan pengurangan sebanyak 70-80% pada meningitis akibat organisme tersebut. Saat ini imunisasi dianjurkan untuk bayi sebagai  rangkain imunisasi tiga dosis pada usia 2,4,6 bulan.


















BAB IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
      Otak dan sumsum otak belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan dengan sekresi sejenis cairan yaitu cairan serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu:
a. Pia meter, merupakan lapisan yang menyelipkan dirinya ke dalam celah pada otak dan sumsum tulang belakang dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat akan menyediakan darah untuk struktur-struktur ini.
b. Arachnoid, merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan dura meter.
c. Dura meter, merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat.
Komponen intrakaranial terdiri dari: parenkim otak, sistem pembuluh darah, dan CSF. Apabila salah satu komponen terganggu, akan mengakibatkan peningkatan tekanan intrakranial, yang akhirnya akan menurunkan fungsi neurologis.
Meningitis merupakan salah satu jenis infeksi yang menyerang susunan saraf pusat, dimana angka kejadiannya masih tinggi di Indonesia. Pada banyak penyakit yang mempunyai mobiditas dan mortalitas yang tinggi, prognosis penyakit sangat ditentukan pada permulaan pengobatan. Beberapa bakteri penyebab meningitis ini tidak mudah menular seperti penyakit flu, pasien meningitis tidak menularkan penyakit melalui saluran pernapasan. Resiko terjadinya penularan sangat tinggi pada anggota keluarga serumah, penitipan anak, kontak langsung cairan ludah seperti berciuman. Perlu diketahui juga bahwa bayi dengan ibu yang menderita TBC sangat rentan terhadap penyakit ini.
Diagnose keperawatan yang muncul tergantung dengan kondisi saat pengkajian, tapi yang utama adalah Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi; resiko terjadi peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan Infeksi pada selaput otak; resiko cedera berhubungan dengan kejang, reflek meningkat; perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit serius.




4.2 Saran
        Pembaca diharapkan dapat mengerti dan memahami gejala meningitis sangat penting untuk dapat menegakkan diagnosis sedini mungkin karena diagnosis dan pengobatan dini dapat mencegah terjadinya komplikasi yang bersifat fatal serta mengetahui penyebab meningitis sangat penting untuk menentukan jenis pengobatan yang diberikan. Sekedar menambah informasi, vaksin untuk mencegah terjadinya meningitis bakterial telah tersedia, dan sangat dianjurkan untuk diberikan jika berada atau akan berkunjung ke daerah epidemik.


















DAFTAR PUSTAKA
Luanne Linard – Palmer (2013) intisari pedriatrik,jakarta EGC
Bedrof H:Prevention, treatment, and outcomes of bacterial meningitis in childhood, prof nurs 17:100, 2001
Richard E. Behrman, MD . Victor C.Vaughan,III,MD , ilmu kesehatan anak bagian 1 , 1998
Cecily lynn betz – linda a sowden.2004.keperawatan pediatriEd5.Jakarta:Kedokteran EGC
Alpers,Ann.2006.Buku Ajar Pediatri Rudolph. Ed.20.Jakarta:EGC.
Http://www.anneahira.com
Brough,Hellen,et al.2007.Rujukan Cepat Pediatri dan Kesehatan Anak.Jakarta:EGC.
Suriadi, Rita Yuliani.2006.Asuhan keperawatan pada Anak Ed.2.Jakarta:Percetakan Penebar Swadaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar